Kamis, 22 Maret 2012

FAWATIH AS-SUWAR


1.      Pengertian Fawatih as-Suwar
Dari segi makna bahasa, fawatih as-suwar berarti pembukaan-pembukaan surat karena posisinya yang mengawali perjalanan teks-teks setiap surat. Atau dengan kata lain satu atau beberapa huruf hijaiyah yang terdapat pada permulaan dari sebagian surat-surat al-Qur'an dan merupakan suatu perkataan yang tidak dikenal artinya oleh bangsa Arab dalam bahasa yang mereka pakai.
Bila sebuah surat dimulai oleh huruf-huruf hijaiyah, huruf itu biasa dinamakan ahruf muqatta’ah (huruf-huruf yang terpisah) karena posisi huruf tersebut cenderung “menyendiri”, tidak bergabung untuk membentuk sebuah kalimat secara kebahasaan.[1]  Namun, segi pembacaannya tidak berbeda dari lafadz yang diucapkan pada huruf hijaiyah.
Sebagian besar surat-surat yang menggunakan fawatih as-suwar ini adalah surat-surat Makiyah, sedang pada surat Madaniyah hanya sebagian kecil saja. Hal ini merupakan salah satu keistimewaan surat-surat Makiyah, yang secara tidak langsung menuntut manusia untuk mengetahui dan mempelajari hikmahnya, mengapa Allah memulainya surat-surat itu dengan huruf hijaiyah di samping susunan huruf hijaiyah itu sendiri dalam fawatih as-suwar sukar dimengerti arti dan maksudnya, karena ia kelompok kalimat (ayat-ayat) mutasyabihat.
2.      Macam-macam Fawatih as-Suwar
Fawatih as-Suwar terdiri dari beberapa macam bentuk, di dalam al-Qur'an dapat dijelaskan sebagai berikut:[2]
a.       Terdiri atas satu huruf, terdapat pada 3 tempat:
-          Dimulai dengan huruf shaad, terdapat pada surat ke-38 surat Shaad.
-          Dimulai dengan huruf qaaf, terdapat pada surat ke-50 surat Qaaf.
-          Dimulai dengan huruf nun, terdapat pada surat ke-68 surat al-Qalam.
b.      Terdiri atas dua huruf, terdapat pada 10 tempat:
-          Surat al-Mukmin [40]: 1
-          Surat Fushilat [41]: 1
-          Surat asy-Syura [42]: 1
-          Surat az-Zukhruf [43]: 1
-          Surat ad-Dukhan [44]: 1
-          Surat al-Jasiyah [45]: 1
-          Surat al-Ahqaf [46]: 1 diawali dengan huruf ha mim
-          Surat al-Thaha [20]: 1 diawali dengan huruf tha ha
-          Surat an-Naml [27]: 1 diawali dengan huruf tha sin
-          Surat Yasin [36]: 1 diawali dengan huruf ya sin
c.       Terdiri atas tiga huruf, terdapat pada 13 tempat:
-          Surat al-Baqarah [2]: 1
-          Surat Ali Imran [3]: 1
-          Surat al-Ankabut [29]: 1
-          Surat ar-Ruum [30]: 1
-          Surat Luqman [31]: 1
-          Surat as-Sajadah [32]: 1 diawali dengan huruf alim lam mim
-          Surat Yunus [10]: 1
-          Surat Hud [11]: 1
-          Surat Yusuf [12]: 1
-          Surat Ibrahi [14]: 1
-          Surat al-Hijr [15]: 1 diawali dengan huruf alim lam ra
-          Surat asy-Syura’ [26]: 1
-          Surat al-Qashshash [28]: 1 diawali dengan huruf tha sin mim
d.      Terdiri atas empat huruf, terdapat pada 2 tempat:
-          Surat al-A'raf [7]: 1 diawali dengan huruf alif lam mim shad
-          Surat ar-Ra’d [13]: 1 diawali dengan huruf alif lam mim ra
e.       Terdiri atas lima huruf, terdapat pada 1 tempat:
-          Surat Maryam [19]: 1 diawali dengan huruf kaf ha ya ‘ain shad
Menurut Ibnu Abi al-Asba’ menulis sebuah kitab yang membahas tentang beberapa kategori dari pembukaan-pembukaan surat yang ada dalam al-Qur'an, yaitu:[3] pertama, pujian terhadap Allah yang dinisbahkan pada sifat-sifat kesempurnaan Tuhan; kedua, penggunaan huruf-huruf hijaiyah yang terdapat di 29 surat; ketiga, penggunaan kata seru atau sapaan yang terdapat di 10 surat dengan rincian: 5 seruan ditunjukkan kepada Rasul secara khusus, dan 5 seruan lagi ditunjukkan kepada umat; keempat, berbentuk sumpah yang terdapat di 15 surat.
Sedangkan Rachmat Taufiq mengatakan ada 10 kategori dari pembukaan-pembukaan surat yang ada dalam al-Qur'an, yaitu:[4]
-          14 surat dimulai dengan lafal pujian
-          10 surat dimulai dengan lafal seruan
-          23 surat dimulai dengan kalimat berita
-          15 surat dimulai dengan lafal sumpah
-          7 surat dimulai dengan lafal syarat
-          6 surat dimulai dengan kalimat perintah
-          6 surat dimulai dengan kalimat pertanyaan
-          3 surat dimulai dengan lafal kutukan
-          1 surat dimulai dengan lafal karena
-          29 surat dimulai dengan huruf-huruf potong
3.      Pendapat Ulama tentang Fawatih as-Suwar
Sehubungan dengan fawatih as-suwar yang telah disebutkan sebelumnya tidak dikenal artinya oleh bangsa Arab dalam bahasa yang mereka pakai dan juga tidak ada riwayat dari Nabi SAW yang menerangkan tentang arti dan maksudnya, maka muncullah di kalangan ulama pikiran-pikiran arti yang pada garis besarnya dapat dibagi kepada dua macam:
-          Mereka yang mengambil sikap bahwa arti dan maksudnya tidak dapat diketahui atau dipahami secara pasti, karena hal itu merupakan rahasia Tuhan yang tidak ditampakkannya kepada manusia.
Mereka sungguh-sungguh beriman tentulah meyakini bahwa fawatih as-suwar itu berasal dari Allah, walaupun mereka tidak memahami makna dan maksud kitabnya baik yang tersembunyi maupun tidak.[5]
-          Bahwa fawatih as-suwar ini mempunyai makna yang dapat dipahami. Mereka berpendirian, bahwa al-Qur'an adalah kitab suci yang mengandung hidayah (petunjuk), jika ia sebagai hidayah maka harus dapat dipahami makna-maknanya.
Ahli-ahli hadits menukilkan dari pada Ibnu Mas’ud dan Khulafa ar-Rasyidin, bahwa beliau-beliau itu berkata:
إِنَّ هدِهِ الْحُرُوْفِ عِلْمٌ مَسْتُوْرٌ مَحْجُوْبٌ اِسْتَأْثَرَهُ اللهُ بِهِ
“Sesungguhnya huruf-huruf ini, adalah ilmu yang tersembunyi dan rahasia yang terdinding, yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya”[6]
Ibnu Qatadah mengatakan bahwa tidak mungkin Allah SWT menurunkan sesuatu yang ada di dalam al-Qur'an kecuali akan memberi manfaat dan kemaslahatan bagi hambanya, dan tentu ada sesuatu yang bisa menunjukkan kepada maksud yang dikehendakinya.[7]
Pada dasarnya, terdapat dua kubu ulama yang mengomentari persoalan di atas tentang fawatih as-suwar, pertama kubu salaf yang memahaminya sebagai rahasia yang hanya diketahui Allah. Di antara mereka adalah Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar.[8]
Dalam satu riwayat, Ali berkata:
إِنَّ لِكُلِّ كِتَابٍ صَفْوَاةٌ وَصَفْوَةُ هَذَا الْكِتَابِ حُرُوْفُ التَّحَجِّيْ
“Setiap kitab memiliki sari pati (safwah) dan sari pati al-Qur'an adalah huruf-huruf ejaannya”
Riwayat senada diucapkan Abu Bakar,
فِى كُلِّ كِتَابٍ سِرٌّ وَسِرُّهُ فِى الْقُرْانِ أَوَائِلِ السُّوَرِ
“Setiap kitab memiliki rahasia dan rahasia al-Qur'an adalah permulaan-permulaan suratnya (awa’il as-suwar)”
Adapun kubu kedua melihat persoalan ini sebagai suatu rahasia yang juga dapat diketahui manusia.
a.       Menurut ahli tafsir
Menurut Ibn ‘Abbas, berdasarkan riwayat Ibn Abi Hatim huruf-huruf itu menunjukkan nama Tuhan. Alif Lam Mim, yang terdapat dalam pembukaan surat al-Baqarah, ditafsirkan dengan Ana Allah A'lam (Akulah Tuhan yang Mahatau), Alif Lam Ra’ ditafsirkan dengan Ana Allah Ara (Akulah Tuhan yang Maha melihat). Juga menurutnya Alif Lam Ra’ dan Ha Mim merupakan ejaan ar-Rahman yang dipisahkan. Dalam mengomentari huruf kaf ya ha ‘ain shad, ia berkata, “kaf sebagai lambang karim (pemurah), ha berarti hadin (pemberi petunjuk), ya’ berarti hakim (bijaksana), ain berarti ‘alim (maha mengetahui), dan shad berarti shadiq (yang mahabenar).[9]
Pembahasan-pembahasan yang dilakukan oleh ulama ahli tafsir menunjukkan bahwa pembuka surat yang berbentuk huruflah yang sering menimbulkan kontroversi. Itulah sebabnya, huruf-huruf tersebut sering dimasukkan dalam kategori ayat mutasyabihat yang tak seorang pun “mengetahui” artinya selain Allah, atau yang biasa disebut salah satu bentuk “rahasia Tuhan” yang terdapat dalam al-Qur'an.
Adapula ulama tafsir yang berpendapat bahwa Allah memakai huruf tersebut sebagai huruf sumpah. Allah bersumpah atas nama huruf-huruf tersebut dalam bentuk ringkasan sehingga penyebutannya hanya sebagian. Tegasnya, Dia menyebut sebagian huruf untuk makna seluruh huruf. Misalnya, Dia menyebut Alim Lam Mim untuk menunjukkan bahwa Dia bersumpah dengan seluruh al-Muqatta’ah. Makna ini bisa diilustrasikan dalam sebuah kalimat aku telah mempelajari Alim Lam Mim, artinya seseorang tidak hanya mempelajari huruf-huruf yang dimaksud karena ia harus mempelajari huruf lainnya di antara 28 huruf hijaiyah.
Sebagian lagi ada yang mengemukakan bahwa huruf tersebut diambil dari sifat-sifat Allah, yang dengannya terkumpullah banyak sifat. Ini merupakan salah satu bentuk seni dari “seni meringkas” yang sering kali dilakukan oleh orang-orang Arab di saat mereka bermain syair.[10]
Dalam hal ini huruf-huruf potong yang berada di awal surat-surat tertentu itu dapat menggugah orang untuk selalu ingat kepada Allah dalam segala keadaan. Ingat kepada Allah merupakan suatu prestasi spriritual manusia yang sangat tinggi nilainya.
b.      Menurut ahli teologi dan tasawuf
Kelompok teolog biasanya menafsirkan al-Qur'an untuk melegitimasi doktrin-doktrin mereka. Begitu pula dalam penjelasan rahasia-rahasia huruf al-Qur'an ini. Syi’ah umpamanya, berpendapat bahwa apabila pengulangan dalam kelompok huruf itu dibuang, akan terbentuk sebuah pernyataan صِرَاطُ عَلِيُّ عَلَى حَقٍّ (jalan yang ditempuh ‘Ali adalah kebenaran yang harus kita pegang). Ulama Sunni, dengan kecendrungan teologi pula, membantah pendapat Syi’ah di atas. Mereka kemudian mengubah pernyataan ulama Syi’ah tersebut menjadiصَحَّ طَرِيْقُكَ مَعَ السُّنَّةِ (telah benar jalanmu dengan mengikuti sunah). Kata as-Sunnah itu dimunculkan untuk untuk memperlihatkan kebenaran aliran teologi Ahlussunah wal Jama’ah.[11]
Dalam tradisi para sufi, rahasia-rahasia huruf itu dijelaskan dengan perspektif esoterik-simbolik. Ibnu ‘Arabi dianggap sebagai pelopor dalam hal ini. Ia menjelaskan bahwa Alim adalah nama esensi Ilahi, yang menunjukkan bahwa ia merupakan yang pertama dari segala eksistensi, sedangkan Lam sebaliknya terbentuk dair dua Alif, dan keduanya dikandung oleh Mim. Lebih jauh ia menjelaskan bahwa setiap nama adalah referensi untuk hakikat (esensi), yaitu yang mengandung satu atau sifat lain (atribut). Oleh karena itu, Mim merupakan referensi terhadap tindakan Muhammad, maka Lam yang mengantarkan Alif dan Mim merupakan simbol nama malaikat Jibril.
c.       Menurut kalangan orientalis
Noldeke, seorang orientalis Jerman adalah orang yang pertama kali mengemukakan dugaan bahwa huruf-huruf itu merupakan penunjukkan nama-nama para pengumpulnya. Misalnya, Sin sebagai kependekatan dari Sa’id bin Waqqash. Mim sebagai kependekan dari nama Utsman bin Affan, dan Ha sebagai kependekan nama Abu Hurairah. Ia kemudian mengemukakan pandangan bahwa huruf-huruf itu merupakan simbol yang tidak bermakna, mungkin merupakan tanda-tanda magis atau tiruan-tiruan dari tulisan kitab samawi yang disampaikan kepada Nabi Muhammad.[12]
Sebagai ayat mutasyabihat, tentu saja penafsiran terhadap huruf-huruf itu tidak akan berhingga atau tak ada batasnya. Apa yang dikemukakan di atas hanyalah penakwilan-penakwilan individu yang sangat diwarnai berbagai orientasi dan kecendrungan yang tidak menutup kemungkinan untuk dikritik.
Bahkan ada pula ulama yang tidak terlalu menganggap serius huruf-huruf pembuka itu, misalnya Qurthubi, ia mengatakan: “Aku tidak melihat kehadiran huruf al-Awqatta’ah kecuali terdapat pada awal surat. Dan aku sendiri tidak menangkap maksud-maksud tertentu yang dikehendaki oleh Allah.[13]
4.      Hikmah Adanya Fawatih as-Suwar
Fawatih as-Suwar merupakan salah satu masalah yang paling rumit yang dihadapi oleh para peneliti al-Qur'an, baik sudut ilmiah maupun historis di kalangan para sahabat Nabi, sampai sekarang dalam penafsirannya belum menemukan secara pasti. Meskipun demikian ditetapkan dari sejumlah pendapat-pendapat tersebut di atas yang mendekati rasional ada tiga yaitu:
-          Mereka yang mengatakan bahwa fawatih as-suwar yang terdapat pada sebagian surat-surat al-Qur'an itu dimaksudkan untuk mengalihkan pandangan kaum musyrikin agar mau mendengarkan al-Qur'an yang tersusun dari huruf-huruf tersebut.
-          Mereka yang berpendapat, bahwa yang dimaksudkan dengan fawatih as-suwar itu untuk menunjukkan pandangan mereka bahwa al-Qur'an tersusun dari huruf-huruf itu, tetapi mereka tidak mampu membuatnya, padahal mereka sehari-harinya sering mengucapkan dengan kata-kata huruf tersebut.
Dengan demikian maka al-Qur'an menjadi bukti bahwa ia datang dari Allah dan bukan dari Muhammad SAW. Kalau mereka (orang musyrikin dan ahli kitab, baik yang berada di Makkah, Madinah atau di luar) itu jujur dengan melihat kenyataan yang ada.
-          Bagi orang Arab membaca huruf-huruf (alif lam mim dan seterusnya) seperti itu menarik perhatian sekali karena belum pernah mereka dengar. Jadi, perhatian mereka tertuju sepenuhnya pada apa yang akan disebutkan Rasulullah SAW. Sesudah itu pada umumnya yang diterangkan sesudah itu ialah tentang al-Qur'anul Karim. Mukjizatnya, kebenarannya, wahyu Allah SWT dan lain-lain soal yang sangat penting. Kalau diumpakan dalam rapat ibarat perlu ketua rapat untuk menenangkan rahadirin agar perhatian penuh tertuju kepada uraian ketua rapat. Inilah tafsir yang masuk akal.[14]
Al-Qur'an memiliki banyak keistimewaan dari segi makna dan kebahasaan. Dari segi makna, memang banyak sekali penafsiran-penafsiran spekulatif terhadap huruf-huruf itu. Dikatakan spekulatif karena penafsiran-penafsiran mengenai hal itu tidak didahului pengungkapan konteks historisnya.
Menjadi penting pula untuk diperhatikan asumsi sebagian ulama bahwa fenomena huruf muwatta’ah sebagai fawatih as-suwar bisa jadi karakter-karakter tampilan huruf atau kalimat yang ada di dalam al-Qur'an itu sangat kuat dipengaruhi gaya bahasa dan seni syair bangsa Arab. Misalnya yang berhubungan dengan teori singkatan-singkatan. Diriwayatkan oleh al-Farra’ dan az-Zajjaj bahwa suatu kaum menafsirkan makna Qaf dengan qadhallahu ma huwa kain (Allah menakdirkan apa yang terjadi). Mereka berpendapat dengan (kukakatakan kepadanya: “Berhentilah!”, ia menjawab Qaf maknanya: “Berhentilah engkau”).[15]


DAFTAR PUSTAKA


Abdullah al-Qurthubi, Abu, al-Jami’ li Ahkam al-Qur'an, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993), Jilid I

Abdullah az-Zanzani, Abu, Wawasan Tarikh al-Qur'an, Terjemah Kamuluddin Marzuki, (Bandung: Mizan, 1991)

Al-Abyari, Ibrahim, Tarikh al-Qur'an, (Cairo: Dar al-Qalam, 1965)

Al-Zarqani, Manahil al-Irfan, (Cairo: Isaal Bab al-Halabi, t.t.,)

Anwar, Rosihon, Ulumul Qur’an, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2004)

Bakry, Gemar, Tafsir Rahmat, (Jakarta: Majelis Ulama Indonesia, 1983)

Chirzin, Muhammad, Al-Qur'an dan Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Primayasa, 1998), Cet. ke-1

Hasbi ash-Shiddieqy, Muhammad, Ilmu-ilmu al-Qur'an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1972)

Izzan, Ahmad, Ulumul Qur’an, (Bandung: Tafakur, 2005)

Taufiq Hidayat, Rachmat, Khazanah Istilah al-Qur'an, (Bandung: Mizan, 1989)


[1] Drs. Ahmad Izzan, M.Ag., Ulumul Qur’an, (Bandung: Tafakur, 2005), h. 192
[2] Drs. Rosihon Anwar, M.Ag., Ulumul Qur’an, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2004), mengutip ash-Shalih, Op. Cit., h. 234-235
[3] Drs. Ahmad Izzan, M.Ag., Ulumul Qur’an, (Bandung: Tafakur, 2005), h. 192, mengutip Ibnu Abi al-Asba’ dalam bukunya Khaqatir as-Sawarih fi Asrar al-Fawatih
[4] Rachmat Taufiq Hidayat, Khazanah Istilah al-Qur'an, (Bandung: Mizan, 1989), h. 176-177
[5] Al-Zarqani, Manahil al-Irfan, (Cairo: Isaal Bab al-Halabi, t.t.,), h. 219-220
[6] M. Hasbi ash-Shiddieqy, Ilmu-ilmu al-Qur'an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1972), h. 127-128 mengutip Tafsir al-Manah VIII: 302
[7] Ibrahim al-Abyari, Tarikh al-Qur'an, (Cairo: Dar al-Qalam, 1965), h. 158
[8] Drs. Rosihon Anwar, M.Ag., Ulumul Qur’an, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2004), mengutip ash-Shalih, Op. Cit., h. 136-137, Ibid., h. 236
[9] Drs. Rosihon Anwar, M.Ag., Ulumul Qur’an, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2004), mengutip ash-Shalih, Op. Cit., h. 137, mengutip as-Suyuthi, Op. Cit., h. 9-11
[10] Drs. M. Chirzin, M.Ag., Al-Qur'an dan Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Primayasa, 1998), Cet. ke-1, h. 63, mengutip al-Abyari, Op. Cit., h. 159-160
[11] Drs. Rosihon Anwar, M.Ag., Ulumul Qur’an, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2004), h. 139, mengutip ash-Shalih, Op. Cit., h. 237
[12] Drs. Rosihon Anwar, M.Ag., Ulumul Qur’an, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2004), h. 140, mengutip W. Montgomery Watt, Bell’s Introduction to the Qur’an, Edinburgh University Press, 1991, h. 64
[13] Abu Abdullah al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur'an, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993), Jilid I, h. 108
[14] H. Gemar Bakry, Tafsir Rahmat, (Jakarta: Majelis Ulama Indonesia, 1983)
[15] Abu Abdullah az-Zanzani, Wawasan Tarikh al-Qur'an, Terjemah Kamuluddin Marzuki, (Bandung: Mizan, 1991), h. 128

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar